Dalam rangka menyongsong pergantian Tahun Caka 1938 ,Prejuru Desa Pakraman Tegenan yang dipimpin oleh Jero Bendesa Mangku Made Sedana,mengadakan rembug di Balai Banjar Tegenan dari jam 15 s/d 19.00 Wita kemarin Minggu,6 Maret 2016. pada kesempatan itu Bendesa memaparkan hasil rapat koordinasi dikecamatan sebagai intruksi Camat hendaknya ditindak lanjuti dan di laksanakan di lapangan antara lain :
1.Bidang Ketertiban Umum meliputi; keamanan pelaksanaan Nyepi tidak perlu pecalang lalu lalang cukup
pada posnya masing-masing dan memantau bila ada pelanggaran ditegur secara persuasip agar tidak
menimbulkan kegaduhan di masyarakat.
2.Barang/bahan bangunan yang diturunkan dijalan raya harus sudah bersihdalam waktu 1x24 jam
3.Masyarakat yang membangun dekat jalan raya supaya tidak menggunakan/lewat dari batas jalan/got.
4.Perbatasan Desa Pakraman akan ditertibkan dengan pembahasan bersama Desa Pakraman bersandingan.
5.Pelaksanaan Ngerupuk yang dilaksanakan di DP Tegenan agar terlaksana dengan baik dan tertib sesuai
ajaran agama yang dijabarkan lebih lanjut sebagai berikut:
Sanggah cucuk berasal dari kata;
sanggah = penyanggah/menopang, dan cucuk yang berarti pemucuk. Jadi dapat
diartikan sanggah cucuk ini adalah pertemuan antara penyangga dan pemucuk, sanggah cucuk berbentuk segi tiga. Selain itu
fungsi sanggah cucuk adalah sebagai upasaksi dari pelaksanaan ritual bhuta
yadnya khususnya pecaruan
Dalam kaitannya dengan tawur agung
kesanga, sanggah cucuk ini dipakai sebagai salah satu sarana upasaksi yang
dipasang di samping lebuh atau sebelah kanan(dari dalam) pintu/kori rumah.
Sedikit
pengetahuan tentang tawur kesanga, dapat
dijelaskan bahwa tawur berasal dari kata nawur atau membayar (utang). Lalu
kepada siapa kita membayar utang? Kepada para bhuta kala yang mana utang kepada
bhuta kala dalam tri rna termasuk dalam utang kepada dewa rna. Dari utang
kepada bhuta inilah perlu dilaksanakannya bhuta yadnya yang tujuannya adalah
agar energi-energi negatif dari para bhuta kala tidak mengganggu umat manusia
di dunia ini. Selain itu juga fungsi tawur ini agar para bhuta kala disucikan agar
bisa menyatu (somya) dengan Sang Hyang Tunggal, maka dari itu pada mantram
ngalukat bhuta disebutkan :
“Om lukat sira sang bhuta dengen
masurupan sang kalika, lukat sang kalika masurupan ring bhatari durga, lukat
bhatari durga masurupan ring bhatari uma, lukat bhatari uma masurupan ring
bhatara guru, lukat bhatara guru masurupanring sang hyang tunggal, lukat sang
hyang tunggal masurupan ring sang hyang sangkaning pa-
ran, apan sang hyang sangkaning
paran rat kabeh siddha mawali paripurna. Om siddhir astu tat astu ya namah
swaha”
Dikatakan tawur agung kesanga karena
dilaksanakan serentak di seluruh daerah dan juga pada tilem caitra(sasih
kesanga =9= angka tertinggi.) adalah tilem yang dianggap paling baik untuk
melaksanakan bhuta yadnya.
Untuk
pelaksanaan upacara tawur kesanga di Desa Pakraman Tegenan , dibagi
menjadi tiga bagian sebagai haturan kepada Tri Mala Paksa, yaitu Bhuta Buchari,
Kala Bhucari, dan Durgha Bhucari. Berikut penjelasannya ;
1. Nunas Tirta dan Nasi Taur di catus Pata/Margi Catur dengan
bakti sakesidan jam 12.00
2. Jam 18.00 melaksanakan upacara Ngerupuk di rumah
masing-masing bersama keluarga sbb.:
a. Ngaturang bakti di Kemulan berupa pejati kalau bisa atau
minimal rayunan putih kuning, ngunggahang tirta di Kemulan,di natar Merajan
Kamulan ada sayut Byakala,Pemyak kala,Sesayut Lara Melaradan dan Prasista atau
minimal ada sayut sudamala, dihaturkan segehan agung,nasi cacahan 11 tanding
atau segehan manca warna, metabuh ditujukan kepada Sang Bhuta Bhucari,
mantramnya :“Ih Bhuta Bhucari, manusan nira angaturaken segehan, iki tadah saji
sira segehan cacahan 11 tanding, madaging beras, jinah paketengan pinaka
pamogpog maka kirang nira aja nyengkalen waduan sira among maka jiwa pramana
waduan sira. Wus amangan anginum lah ta sira pamantukan ring karang nguni
soang-soang”(mantram menyesuaikan dengan bantennya)
b. Di tengah natar pekarangan rumah dihaturkan segehan manca warna 9 tanding
berisikan daging ayam brumbun , atau yang lebih sederhana 1 segehan berwarna 4
(arah timur putih, merah selatan, kuning barat, hitam utara) , tetabuhan arak
& brem, toya anyar ditujukan kepada Sang Kala Bhucari, mantramnya :“Ih kala
Bhucari, manusan nira angaturaken segehan, iki tadah saji sira segehan manca
warna 9 tanding, madaging beras, jinah paketengan pinaka pamogpog maka kirang
nira, aja nyengkalen waduan sira among maka jiwa pramana waduan sira. Wus
amangan anginum lah ta sira pamantuka ring karang nguni soang-soang”(mantram
menyesuaikan dengan persembahannya)
c. Di lebuh rumah atau di pintu sebelah kanan pekarangan dipasang sanggah cucuk (dari dalam). Pada sanggah cucuk tersebut diletakkan peras
daksina, ajuman, banten pedanan, tumpeng ketan, panyeneng dan rerasmen. Pada
sanggah cucuk +sujang (diisi air, arak & tuak/brem) Haturan di sanggah cucuk
tersebut ditujukan kepada Sang Durgha Bhucari.Di sor (bawah) sanggah cucuk
diletakkan segehan manca warna 9 tanding, berisi daging ayam brumbun, tetabuhan
arak & brem ditujukan kepada Sang Kala Raja & Sang Bhuta Raja. Selain
itu juga dihaturkan segehan cacah 108 ulam jeroan mentah, segehan agung 1
tanding ditujukan kepada Sang Kala Bala & Sang Bhuta Bala. Atau lebih
sederhana dihaturkan 1 segehan warna 9 sesuai dengan warga pangider dewata nawa
sanga. Keempat Bhuta Kala yang dihaturkan segehan di bawah ini merupakan
pengikut dari Bhatari Durgha.mantramnya :“Ih Durgha Bhucari, manusan nira
angaturaken segehan, iki tadah saji sira segehan, madaging beras, jinah
paketengan pinaka pamogpog maka kirang nira, aja nyengkalen waduan sira among
maka jiwa pramana waduan sira. Wus amangan anginum lah ta sira pamantuka ring
karang nguni soang-soang”
3.Usai ngaturang bakti dilanjutkan
dengan mebuu/me-obor-obor serana prakpak,ketisang tirta taur,sebar nasi
taur,kakap suna jangu,mesui,kulkul,sampat,sayut2(sekeluarga di natah rumah
mesayut) dari merajan,keliling pekarangan 3 kali dan lebar di lebuh.
4.Mebakti/sembahyang bersama,Nunas
Tirta lan wija di Sanggah/Merajan,malamnya persiapan nyanggra nyepi,besok pagi
sebelum jam 06.00 sebaiknya melakukan sembahyang SURYA GRAHA dengan banten
wangi-wangian dan umbi-umbian(menurut Lontar Sundarigama) dan atau sakasidan
(karena Nyepi pas Gerhana) laksanakan Catur Berata penyepian,upawasa,jangan
sampai kita umat Hindu yang melanggar,bayangkan pemerintah sampai nutup bandara
atau pelabuhan demi mengamankan Nyepi yang sudah dikenal dunia,sangat
disayangkan sekali kalau kita sampai menodainya. Esok harinya,ngembak Gni
menurut Kitab Sarasamuscaya dan Slokantara sangat baik melaksanakan
Punia,mesuci laksana,meprasista dan menyucikan diri dengan mandi suci,karena
alam dalam Sadasiti Mukha.
Setelah itu esoknya saat Ngembak Gni lakukan Dharma
Santi,silahturahmi,bermaaf-maafan sesama saudara,keluarga besar dan warga
sekitar. Untuk tahun ini acara Darma Santi Desa Pakraman Tegenan dilaksanakan di Pura Dalem Putra jam 15.00 Wita yang akan di hadiri oleh Banjar Adat Tegenan Kelod, Prejuru Desa,WHDI,KWT,PKK,STT dan Para Pemangku dengan tema "Yudha Awidya Narottama,Punia bakti nitenin kasukertan pakraman"
Mari kita maknai setiap
upacara yang dilakukan dengan baik, karena dengan begitu setiap yadnya/demi yadnya
kita laksanakan akan mengubah tata cara kita berpikir, berkata, dan perbuatan
kita mengarah ke arah yang lebih baik(Manava Dharma Sastra III.97) . SWASTI
ICAKA WARSA 1938,AMPURA MENAWI WENTEN IWANG,DUMOGI SAMI MANGGUH KENAK RAHAYU
LAN DIRGAYUSA MEWASTU TEGENAN MANGGUH SANTHI JAGATITA.(Prejuru DesaPakraman Tegenan) by; ,E-mail: manix_gni@
yahoo.com/Mk.Manik Puspa Yoga.
Bendesa Desa PakramanTegenan Jero Mk.Made Sedana
Jero Mk.Wayan Sudiana (Ketua Kerta Desa)
|
Jero Wayan Degeng Ketua Peguyuban Pinandita Dharma Kerthi


r