Minggu, 26 Januari 2025

UPACARA AGAMA DALAM IMPLEMENTASI TRI HITA KARANA DI DESA ADAT TEGENAN

Desa Adat Tegenan yang terletak dikawasan suci Pura Besakih adalaah salah satu Desa Adat yang memi-liki kewajiban untuk ngiring Ida Bhetara Dalem Puri pada saat melasti dalam rangkaian upacara Purnama kedasa sehingga masuk dalam jajaran kelompok Desa Pregunung yang dilaksanakan oleh Desa Karang Desa Adat Tegenan. Desa Adat Tegenan dalam melaksanakan upacara keagamaan memiliki kaitan dengan Upacara Ngusaba Pura Dalem Puri yaitu nemonin penanggal ganjil(1,3,5,7) nemu kajeng pada sasih kepitu,kemudian setelah tiga harinya dilaksanakan upacara Ngusaba Dalem/Saba Pitra di Pura Dalem Suci yang dilaksanakan oleh Desa Seket sebagai pengempon dan Krama Desa Adat sebagai krama penyung-sung.

Dalam kaitan pelaksanaan upacara keagamaan ,tradisi adat dan Budaya dapat dikelompokan implementasinya sesuai Tri Hita Karana sebagai berikut.

I. Parhyangan

Hubungan Manusia dengan Tuhannya perlu dijaga secara harmoni dan terstruktur dalam implementasinya seperti pura kahyangan tiga,pura swagina/kahyanghan desa sesuai pengemponnya.

A.Kelompok Pura Kahyangan Tiga

1. Pura Puseh diempon oleh krama Desa Seket yang memiliki ayahan Desa sebagai cikal bakal Desa di  ,,,,Tegenan,upacara piodalan sekaligus Ngusaba Nini dilaksanakan pada Purnama Kelima.

2. Pura Bale Agung,masih dalam satu areal Pura Puseh,sejak 2019 diempon oleh Krama Banjar Adat ,,,,Tegenan Kelod dan Kaler secara bergiliran setiap purnama Kapat. Sedangkan upacara Bhetara Turun ,,,,Kabeh dilaksanakan setiap 10 tahun sekali selesai upacara ngaben kinembulan/Desa Adat pada ekor ,,,,angka tahun 8 dan ekor tahun 9 dilaksanakan Turun Kabeh bersamaan menjelang Upacara Panca Bali ,,,,Krama di Besakih.

3. Pura Dalem Putra dan Prajapati  pelaksanaan upacara piodalanya jatuh 6 bulan sekali hari Buda             Wage  Kelau namun dilaksanakan setiap tahun diselingi dengan upacara ngerainin di empon oleh            Krama Banjar Adat Tegenan Kelod. Untuk upacara Praja Pati juga ada upacara yasa kerti tiap                  Purnama Kepitu diikuti oleh krama Desa Adat sambil nunas benang tridatu,Ida sesuhunan mesolah         masupati benang , sedangkan pada saat piodalan Ida Bhetara ketuur ke Pr.Dalem ,biaya disubsidi           dari Desa Adat.

B.Kelompok Pura Kahyangan Desa

1.Pura Dalem Suci dan Bhetara Gde Sakti diempon oleh krama banjar Adat Tegenan Kaler,piodalannya     jatuh pada Buda Wage Ukir dan Buda Klion Pahang. Pura ini dulunya merupakan kahyangan tiga,         namun karena adanya migrasi ke selatan dan membangun Dalem Putra dekat kuburan,sehingga pura       ini menjadi Pura Kahyangan Desa sehingga disebut Dalem Suci.

2.Margi Tiga,upacara pecaruannya dilaksanakan setiap tilem kepitu dilaksanakan secara bergiliran oleh     Banjar Adat Tegenan Kelod dan Kaja,biaya upakara disubsidi Desa Adat.

3.Pura Tulak Tanggul dilaksanakan oleh Banjar Adat Tegenan Kelod biaya disubsidi oleh Desa Adat         sebagai stana Ratu Gde Sakti Tanggul Gumi yang berwujud Barong Bangkung sehingga pantang             krama memelihara bangkung. Juga sebagai stana Ratu Lingsir Tanggul Gumi,Sanghyang                         Suratma, Jogormanik dan Cikrabala  Upacara pekelingnya pada Sukra Umanis Ukir,piodalan                   bersamaan dengan Pura Dalem ,beliau dituur ke Dalem ngiring mesolah. Pada kajeng Klion Uudan         sasih kenem ada upacara Caru mancasanak agung sebagai caru pemangkalan agung,krama mulai me      masang sungga guling di batas desa dan dirumah masing-masing, dan nanceb sanggah cucuk di              lebihnya ,setelah saat itu warga boleh melaku    kan pecaruan di rumah masing masing kalau mecaru.      Kalau melakukan upacara Pitra Yadnya,sebe-         lum    nyepugin wajib ngaturang pejati piuning di      Sanghyang Suratma(mohon ijin).

4.Bale Patok sebagai stana Bhegawan penyarikan pekeling pada Tumpek Krulut dan ada kentongan          Banjar,pada saat ada anak gadis diambil kawin keluar desa,wajib maturan pejati dan penepak suara 10    rontong beras (25kg). diuangkan.

5.Margi Catur sebagai stana Sanghyang Catur Bhuana dan disini tempat melaksanakan caru Kesanga        dengan 9 ekor ayam dan 1 ekor sapi/godel tiap 5 tahun sekali pelawatan Ida Bhetara Dalem Suci,             Tulak  tanggul dan Prajapati tedun nodya caru habis ngaben tahun ekor 3 dan 8. diempon bergiliran       krama banjar Kelod dan Kaja.

6.Pangkung Cinang upacaranya bersamaan dengan caru di Margi Tiga,waktu dan pengemponnya sama.

7.Pr.Pekandelan adalah sebagai benteng bagian utara sebagai stana Ratu Gde Sakti Pekandelan sebagai    andel-andel jagat Tegenan dari tempo dulu,pelinggih ini dulu hancur karena letusan G.Agung 1963        dan baru kemudian tahun 2003 dibangun diatas tanah hak guna pakai atas nama I Komang Darma          dengan konpensasi tidak sebagai saya dan tidak tedun mekemit. Upacara di pura ini pada tilem Diesta     yakni upacara memungkah sebagai tanda dimulainya penggarapan tegalan yang diempon oleh Subak    Abian Pucak Manik,sedangkan pada tilem kepitu dilaksanakan pecaruan eko sato oleh Desa Adat            bersamaan dengan Caru Margi Tiga.

8.Tugu Pengadangan upacaranya dilaksanakan setahun sekali pada saat pelaksanaan caru Margi Tiga yang dilaksanakan Desa Adat.

9.Pura Manik Harum adalah pura lahyangan Desa yang termasuk kelompok Pura Swagina bagi para petani yang diempon oleh Krama Desa jangkepan dan didukung oleh Subak Lipang dan Subak gambar karena memiliki kepentingan yang sama bagi para petani. Upacaranya dilaksanakan pada Hari Jumat Umanis sasih Klau. Juga dilaksanakan upacara ngatag pada Sabtu Klion Wariga yang dikenal sebagai Tumpek Uduh atau Bubuh.

10.Pura Gua Gala Gala

Rabu, 01 Januari 2025

PASRAMAN YOWANA DALAM BALUTAN HARI IBU

Desa Adat Tegenan dalam program peningkatan kapasitas yowana tahun anggaran 2024,menyeleng-garakan Pasraman Yowana yang bertema Melalui Pasraman Remaja Kita Ciptakan Generasi Muda Yang Berwawasan Luas dan Berkarakter Kearifan Lokal,didahului dengan perayaan hari ibu pada Minggu tanggal 22 Desember 2024 dengan mengambil tema "Ibu Sumber Kasih dan pengorbanan tiada Henti ". Berbagai lomba diadakan antara ibu-ibu Pakis Dharma Patni,Serati Sekar Wangi,KWT.Mekar Wangi dan PKK Br.Adat Tegenan Kaja,seperti ngulat tipat berjalan,nyuun sokasi, perebutan kursi,dll. Sedangkan Pasraman Yowana dimulai tanggal 26 Desember 2024 bertempat di Balai Desa Adat Tegenan mulai pukul 12.00 hingga-selesai tanggal 29 Desember 2024.Materi yang disajikan menyangkut agama seperti implementasi weda dalam beragama keseharian,adat budaya seperti praktek membuat banten dan olahan caru,juga ilmu belawa membuat olahan lawar masakan khas Bali lanjut dengan  megibung ,Konektivitas Adat,Tradisi,Budaya dan Agama dari kementrian Agama Kabupaten Karangasem, bidang hukum seperti Undang-Undang Lalin,ITE dan Narkoba dari Polsek Rendang,juga materi etika dalam berfikir,berucap dan berbuat dalam komunitas sosial oleh ketua Pakis DA Tegenan.

Harapan kami dengan diselenggarakan pasraman   dalam liburan anak anak sekolah bisa efektif mengisi waktu luang mereka agar tidak dimanfaatkan pada hal hal yang tidak berguna baik anak anak SD(kls VI),SMP,SMA/SMK dan Seka Teruna semuanya 81 peserta. Seka Teruna banyak keluar negeri bekerja untuk menambah luas pengalaman mereka,namun adat tradisi sebagai karakter kearifan lokal jangan diabaikan justru dipupuk demi lestarinya tradisi positif di desa kita. Mengenai sumber dana sebesar Rp.39 juta lebih berasal dari BKK TA 2024 Rp.10 juta,peningkatan seni budaya Rp.8,5 juta selebihnya dari dana punia masyarakat dan dana CSR beberapa perusaan dan KSP.Mekar Sari.ujar ketua panitia I Wayan Suiji.

Pasraman Yowana yang dibuka oleh Bendesa Alitan MDA Kecamatan Rendang I Komang Warsa, menyambut baik kegiatan ini karena sebagai salah satu tujuan pemerintah provinsi Bali yaitu melestarikan dan mengembangkan tradisi adat dan budaya Bali sebagai kearifan lokal dan tema ini sangat nyambung dengan tujuan tersebut,dimana generasi muda hindu hendaknya melek dan mempunyai wawasan yang luas mengglobal sesuai perkembangan peradaban zaman kekinian agar bisa bersaing di era global ini,silahkan mencari ilmu yang setinggi tingginya,berlayar dan bekerja sampai jauh kenegeri seberang namun jangan lupa dengan jati diri orang Bali khususnya orang/generasi   Tegenan ini,nilai nilai luhur tradisi budaya adat yang diwariskan leluhur jangan sampai hancur bahkan punah gegara prialaku kita yang kemajuan. Dengan adanya pasraman ini apa yang menjadi tujuan penglingsir kita untuk mengingatkan,menanamkan nilai nilai luhur tradisi agar terekam dibenak adik adik sekalian sehingga bisa lestari sepanjang hayat,kalau tidak kita yang membanggakan,menjunjung dan melestarikan siapa lagi,kalianlah penerus kami,tegas Warsa.

Sementara itu I Ketut Wana Yasa selaku Bendesa sekaligus penanggungjawab kegiatan sangat berterimakasih atas kerja keras panitia untuk mewujudkan acara ini sehingga dapat berjalan lancar, kedepan kolaborasai yang lebih besar bisa dilakukan dengan penganggaran yang lebih proporsional. kegiatan kita hari ini cukup besar karena ada apresiasi kepada siswa berprestasi tingkat SD,SMP,SMA dan SMK,juga bantuan sembako kepada warga kurang mampu,lomba-lomba yang cukup banyak sehingga biaya tentu cukup besar,ujarnya

Dalam penutupan acara sekaligus perayaan menyambut tahun baru dimeriahkan oleh penampilan dari ibu ibu KWT,Pakis,Serati dan PKK dengan tari pendet,vokal grup,senam kreasi,lomba karaoke dan sangat menarik adalah drama tari dari komunitasa Rare Semara yang dikordinir oleh Rama Dwipayana menampilkan garapan perdana tentang kejadian tempo dulu di Tegenan sebuah kisah dengan judul Menaru Lina dengan penata laku I Wayan Surata,Naskah mk.Manik dan Dalang sekaligus penyusun skrip I Kadek rama Dwipayana dengan durasi 9 menit dengan sambutan hangat dari penonton kagum dengan kreasi dan karya Rama yang memukau ,walau masih duduk di SMK/Kokar. pementasan hiburan diakhiri dengan joged (manixs).

Rapat persiapan dan pembentukan panitia pasraman
Ketua Panitia memberi arahan dalam persiapan pembukaan