Untuk pertama kalinya, Ngusaba Desa yang berlabel Sabha Tegen Desa Adat Tegenan dilaksanakan sesuai dengan Perarem Nomor 02 Tahun 2025 Desa Adat Tegenan tentang Usaba Tegen. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Krama Banjar Adat Tegenan Kaler, dengan persiapan yang telah dimulai sejak 3 Oktober 2025, diawali dengan ngaturang piuning di Pura Kahyangan Desa, Desa Adat Tegenan.
Rangkaian acara
selanjutnya nunas tirta kekuluh ke Pura
Kiduling Kreteg Besakih, dan puncak acara dilaksanakan sehari pada Purnama
Kapat, yakni 6 Oktober 2025 di Pura Puseh Bale Agung.
Menurut Klian
Banjar Adat Tegenan Kaler, I Komang Jana Yata, untuk mengefektifkan anggaran, krama
tidak tedun ngayah membuat banten secara kolektif, melainkan dibuat di rumah
masing-masing dalam bentuk peson-peson.
Namun,
untuk banten bakti pokok seperti bebangkit, taman pula gembal, dan sayut-sayut,
dibeli langsung di Griya Sulinggih yang muput
upacara, yakni Ida Rsi Agung Griya Pundukdawa. Sedangkan untuk uang tunai (cash
money) yang berupa peturunan tidak dikenakan , cukup hanya menyediakan banten
sesuai ketentuan, jelasnya.
Sementara
itu, Bendesa Desa Adat Tenganan, Jero Ketut Wana Yasa, menyatakan rasa
syukurnya atas suksesnya pelaksanaan Ngusaba Tegen . Beliau
mengapresiasi kerjasama dari seluruh pihak yang terlibat dalam mendukung
kelancaran yadnya ini, mulai dari prejuru desa, banjar dan seket, hingga
lembaga-lembaga adat seperti Paiketan Krama Istri, Serati, Pemangku, Pecalang,Seka Gong,
dan Seka Igel Citta Werdhi dan lain-lain.
"Kerjasama antar komponen adat sangat membantu kelancaran
pelaksanaan upacara ini," ujar Jero Ketut Wana Yasa.
Antusiasme
krama juga terlihat tinggi, salah satunya dengan pemasangan penjor di lebuh
masing-masing yang turut memperkuat suasana semarak dan sakral selama
pelaksanaan upacara.
Salah satu
unsur utama dalam upacara ini adalah Tegen-Tegenan, yang dibuat sebanyak sembilan
buah dengan warna merah, selaras dengan konsep pemujaan kepada Dewa Brahma yang
berstana di Bale Agung. Tak hanya itu, gebogan yang dipersembahkan oleh krama
Pakis dan Serati juga berjumlah sembilan, melambangkan kekuatan spiritual yang
mendalam,hal ini diungkapkan oleh Ni Kadek Ririn Susanti selaku sekretaris desa
adat dan ketua Pakis sekaligus sebagai kordinator pembuatan gebogan dan
konsumsi,serta tari remaja.
Nuansa
magis semakin terasa ketika persembahan tersebut ditarikan di pelataran utama
mandala, hingga dalam prosesnya terjadi kondisi trans pada salah satu krama
yang ikut menarikan tarian sakral tersebut.
Pelaksanaan
Ngusaba Tegen ini dilakukan secara bergilir antara Banjar Tenganan Kelod
dan Kaler. Sementara itu, untuk menunjang kelancaran acara, pembiayaan seperti konsumsi,
kebutuhan batu-batu ke lembaga, seperti pengolem gong, tambur,
dan lainnya sepenuhnya ditanggung oleh Desa Adat.
Diakhir acara
penyineban,krama berubut hasil bumi dari tegen tegenan dan barong pancapala
sebagai lambang anugrah kemakmuran warga desa,rahayu(manixs)
.jpeg)


.jpeg)



