Sabtu, 13 Desember 2025

Musyawarah Dusun Tegenan Tahun 2025 Bahas Pembangunan dan Mekanisme Bantuan

Musyawarah Dusun (Musdus) Dusun/Banjar Dinas Tegenan Tahun 2025 dilaksanakan pada Minggu, 14 Desember 2025, bertempat di Balai Desa, Desa Adat Tegenan. Kegiatan ini menjadi forum penting bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi serta membahas arah pembangunan dan kebijakan bantuan sosial di tingkat dusun.

Musdus dipandu oleh PLT Kepala Wilayah Dusun Tegenan, Ni Wayan Sulandri, yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh tokoh masyarakat yang hadir, di antaranya Bendesa Desa Adat Tegenan beserta para prejuru, Ketua Sabha Desa, Kerta Desa, Pecalang, Serati, Prejuru Paiketan Pemangku, PKK, Seka Teruna, serta unsur masyarakat lainnya.

Acara secara resmi dibuka oleh anggota BPD Desa Menanga perwakilan Tegenan, I Ketut Wana Yasa, yang juga selaku Bendesa Desa Adat Tegenan. Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya musyawarah dusun sebagai wadah pengambilan keputusan secara terbuka dan partisipatif. Menurutnya, seluruh rencana pembangunan hendaknya dimusyawarahkan bersama agar masyarakat dapat menyampaikan aspirasi serta berkontribusi demi terwujudnya keadilan dalam arti luas.

Ia juga menyoroti pentingnya kehati-hatian dalam pembahasan Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan bantuan sosial lainnya. “Persoalan bantuan sangat riskan jika salah mengambil keputusan, sehingga perlu musyawarah dan kesepakatan bersama,” ujarnya.

Pada sesi penyerapan aspirasi, Kelian Banjar Adat Tegenan Kelod, I Wayan Suiji, menyoroti mekanisme penyaluran bantuan agar ke depan tidak terulang pengalaman masa lalu yang dinilai kurang tepat sasaran dan menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa penjaringan calon penerima bantuan harus didasarkan pada kriteria yang jelas dan objektif, bukan berdasarkan kedekatan atau subjektivitas pihak tertentu.

“Kedepan, pemberian bantuan harus benar-benar sesuai kriteria tanpa memandang siapa orangnya. Dengan demikian, pemerintah desa aman dalam penyaluran, dan penerima pun aman karena memang pantas menerimanya,” tegasnya. Ia juga mengusulkan agar daftar penerima bantuan diumumkan secara terbuka dalam pesangkepan banjar, sebagaimana kesepakatan tahun 2026 yang menetapkan Ni Ketut Suarti sebagai penerima bantuan karena kondisi kurang mampu dan sedang menjalani cuci darah.

Sementara itu, Kelian Banjar Adat Tegenan Kaler, I Komang Jana Yata, mengusulkan agar kepala dusun atau kelian dinas yang nantinya diangkat melakukan pendataan atau sensus jiwa secara berkala. Hal ini dinilai penting untuk memastikan validitas data kependudukan, mengingat masih ditemukannya data yang tidak akurat, seperti warga yang telah meninggal dunia atau kawin keluar namun masih tercatat, serta penduduk yang lahir atau kawin masuk ke Tegenan belum masuk dalam register.

Ia menegaskan bahwa data kependudukan merupakan dasar utama dalam pelayanan publik. “Berikan pelayanan yang baik dan jangan selalu berorientasi pada uang. Jika pelayanan dipersulit karena alasan biaya, bisa berdampak hukum bagi aparat itu sendiri,” ujarnya.

Musyawarah dusun ini diharapkan mampu menghasilkan kesepakatan yang adil, transparan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat Dusun Tegenan secara menyeluruh.(manixs).



Musdus dipandu Ni Wayan Sulandri (PLT Kadus)



Peserta Musdus




Peningkatan Kapasitas Prejuru Lembaga-Lembaga Desa Adat Tegenan Tahun 2025

 Desa Adat Tegenan menyelenggarakan kegiatan Peningkatan Kapasitas Prejuru Pemerintahan Desa Adat dan Lembaga-Lembaga Adat Tahun Anggaran 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat wawasan serta kompetensi para prejuru lembaga adat dalam menjalankan tugas dan fungsi masing-masing.

Acara secara resmi dibuka oleh Bendesa Alitan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Rendang, I Komang Warsa. Sebelum pembukaan, Bendesa Adat Tegenan I Ketut Wana Yasa menyampaikan ucapan selamat datang sekaligus apresiasi kepada seluruh prejuru lembaga adat se-Desa Adat Tegenan atas partisipasi dan komitmennya dalam mengikuti kegiatan tersebut. Dalam sambutannya disampaikan bahwa kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan kapasitas dan kompetensi prejuru lembaga adat agar mampu melaksanakan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) secara optimal. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi dan koordinasi antar lembaga adat dengan Bendesa Adat serta pihak terkait, sehingga pembangunan di wilayah Desa Adat Tegenan dapat berjalan sejalan dan beriringan menuju tujuan bersama, yaitu mewujudkan Tegenan yang bersatu, maju, dan sejahtera.

Sebagai pemateri utama, Bendesa Alitan MDA Kecamatan Rendang I Komang Warsa menekankan pentingnya peningkatan kapasitas prejuru dalam melaksanakan tugas sesuai dengan job description masing-masing, berlandaskan Peraturan Daerah, awig-awig, dan perarem yang berlaku. Ia menegaskan bahwa pemerintahan desa adat bersifat otonom, mengurus warganya dari dalam dan ke dalam. Setiap permasalahan yang muncul di desa adat pada prinsipnya harus diselesaikan oleh krama desa adat itu sendiri tanpa adanya intervensi pihak luar, apalagi yang membawa kepentingan terselubung melalui ranah desa adat.

Ia juga menyampaikan bahwa kekuatan adat di Bali yang tetap ajeg hingga saat ini tidak terlepas dari sinergi antara adat, budaya, dan agama. Oleh karena itu, masyarakat Bali patut bersyukur karena telah mewarisi tatanan kehidupan luhur dari para leluhur yang menjadi fondasi kuat dalam kehidupan bermasyarakat.

Sesi kedua diisi oleh Ketua PHDI Kecamatan Rendang, I Gusti Agung Made Kresni. Dalam paparannya disampaikan bahwa hubungan antara PHDI dan MDA mencerminkan sinergi antara agama dan adat. Ia mengibaratkan agama sebagai inti, budaya sebagai putih telur, dan adat sebagai kulit telur. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang sama pentingnya dalam mencapai tujuan hidup yang harmonis.

Pada sesi tanya jawab, Mk. Manik dan Mk. Kadek Sedana mengangkat berbagai isu, di antaranya mengenai kremasi, penduduk pendatang, kacuntakan bagi warga Tegenan yang memiliki keluarga di luar desa, serta tantangan pelestarian adat, budaya, dan agama ke depan. Diskusi juga menyoroti pengaruh pergaulan generasi muda yang semakin luas terhadap perkembangan adat dan budaya di masa mendatang.

Kesimpulan diskusi menegaskan bahwa dalam pelaksanaan kremasi, krama desa adat harus tetap berpegang pada aturan adat dan tidak bertindak semaunya sendiri. Terkait penduduk pendatang, diperlukan koordinasi yang baik dengan krama yang menampung, serta pengaturan yang jelas melalui perarem, mengingat hukum adat berorientasi ke dalam (krama desa).

Untuk pelestarian adat dan budaya, generasi muda perlu dilibatkan sejak dini agar memiliki pemahaman dan kebanggaan terhadap jati diri lokal. Pemikiran boleh bersifat global, namun jati diri harus tetap lokal sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, sebagaimana yang ditunjukkan oleh bangsa-bangsa besar seperti Tiongkok dan Jepang,ujar Jero Warsa.(manixs)

Ketua Pakis Dharma Patni Mk.Ririn sebagai MC
Ucapan selamat datang dari Bendesa Desa Adat Tegenan I Ketut Wana YAsa
I Komang Warsa Bendesa Alitan MDA Kecamatan Rendang
I Gst.Agung Made Kresni ketua PHDI Kecamatan Rendang

Peserta/prejuru
Mk.Manik dan Mk Kd.Sedana saat berdiskusi dengan MDA

Rabu, 26 November 2025

Kisruh Bantuan CSAR di Desa Karang Tegenan, Pengurus Mengundurkan Diri — Bendesa Adat Lakukan Mediasi dan Kukuhkan Pengurus Baru

Tegenan,17 Nopember 2025,Suasana memanas terjadi di Desa Karang Tegenan setelah bantuan Corporate Social and Religious Responsibility (CSAR) dari Badan Pengelola Kawasan Suci Pura Agung Besakih (BPKSPAB) untuk Desa Adat Pregunung menuai perbedaan pendapat di internal masyarakat. Sejumlah anggota Desa Karang menginginkan agar bantuan tersebut sepenuhnya dikelola oleh Desa Karang, dengan alasan merekalah yang menjalankan kewajiban ngayah di Besakih. Mereka menolak apabila bantuan itu dikelola oleh Desa Adat Pregunung atau Banjar Adat.

Ketegangan tersebut menyebabkan pengurus Desa Karang, yakni Mk. Komang Gunama dan I Komang Dwija, memilih mengundurkan diri karena tekanan dari anggotanya yang menginginkan pengelolaan penuh dana bantuan.

Melihat situasi yang tidak kondusif tersebut, Bendesa Adat Desa Adat Pregunung Tegenan, I Ketut Wana Yasa, berupaya melakukan mediasi. Ia meminta kedua pengurus lama mempertahankan jabatan, namun keduanya tetap bersikeras mundur. Dengan demikian, Desa Adat menetapkan pergantian pengurus,maka pada hari Senin Pon Dungulan,17 November 2025 bertempat di Pura Taman Beji Tegal Suci diadakan musyawarah mufakat sehingga untuk jabatan masa kepengurusan 2025-2030 terpilih sebagai,

Klian         : I Putu Andi Antara Wirakusuma

Sekretaris : Mk. Sentana

Bendahara: I Komang Wiarta

Selanjutnya bertempat di Balai Desa Desa Adat Tegenan diselenggarakan Pertemuan Sosialisasi yang dihadiri Kepala Badan PKSPAB I Gusti Lanang Muliarta, Sekban, dan Kabid Humasnya.   Kepala BPKSPAB memberikan penjelasan menyeluruh terkait sejarah pembentukan badan tersebut, yang diresmikan pada Februari 2023, serta visi, misi, dan tujuannya:

1. Ikut mensucikan Pura Agung Besakih

2. Melestarikan budaya Bali

3. Membangun kehidupan sosial yang lebih baik

4. Meningkatkan ekonomi masyarakat

Selama dua tahun, keempat tujuan tersebut disebut telah berjalan, termasuk kontribusi kepada 13 Desa Adat Pregunung sesuai Peraturan Gubernur Bali.

Ia menegaskan bahwa bantuan CSAR ditujukan untuk Desa Adat Pregunung, dan Desa Karang adalah bagian dari Desa Adat Pregunung. Karena itu, pengelolaan dilakukan oleh Bendesa Adat. Namun proporsi penggunaan tetap memperhatikan kebutuhan Desa Karang, dengan batasan diaturlah jangan lebih 40% untuk Desa Karang, sementara pertanggungjawaban formalnya saya minta tetap melalui Bendesa.

Menanggapi penjelasan tersebut Bendesa menegaskan bahwa Desa Karang dipersilakan mengajukan proposal terkait kebutuhan penggunaan dana, seperti untuk:

# pembelian banten (kalau ada)

# konsumsi(mami) saat ada rapat-rapat

# transportasi kegiatan saat ngiring Ida Bhetara,

# seragam Desa Karang,selama sesuai proporsi dan ketentuan dalam juknis.

Berikutnya dalam sesi tanya jawab, Klian Karang menyampaikan aspirasi sejumlah anggota yang mempertanyakan mengapa bantuan diberikan kepada desa adat/banjar adat ?, sementara kewajiban ngayah  dilakukan Desa Karang,kalau mau serahkan saja ngayahnya kepada banjar usulnya.

Menanggapi hal ini, Klian Banjar Adat Tegenan Kelod, Mangku Manik, memberikan penjelasan tegas. Menurutnya, hak menempati tanah tegak karang oleh warga Desa Karang diberikan oleh Ida Dalem bersamaan dengan kewajiban mundut Ida Betara di Besakih. Terdapat 33 tanah ayahan karang yang melekat pada kewajiban tersebut.

Jika Desa Karang hendak menyerahkan kewajibannya kepada banjar adat, maka hak atas tanah pekarangan yang diterima Desa Karang juga harus diserahkan kepada banjar sebagai konsekuensinya. Penjelasan tersebut akhirnya diterima oleh para anggota.

Rapat kemudian memutuskan bahwa dana bantuan akan dicairkan melalui rencana penggunaan anggaran yang disusun secara proporsional dan diajukan kepada Bendesa Adat. Untuk sementara, mekanisme ini akan berjalan sambil menunggu terbitnya  Peraturan Gubernur (Pergub) baru  yang katanya nanti secara khusus akan mengatur tentang Desa Karang.(manixs)

 
Suasana saat pertemuan

Rapat sosialisasi CSAR PKSPAB

Tampak Kepala Badan dan Sekban saat menghadiri sosialisasi

Bendesa





Desa Adat Tegenan Gelar Pasraman Pesantian Tahun Anggaran 2025

Tegenan, 26 November 2025 — Desa Adat Tegenan kembali menggelar Pasraman Pesantian tahun anggaran 2025 dengan mengusung tema “Ngwangun Swara, Nguripang Budaya Gita Ulaṅgun Pinaka Premananing Dresta D.A. Tegenan.”,(mewujudkan kidung yang indah,menghidupkan budaya pesantian sebagai jiwa tradisi Desa Adat Tegenan)  Kegiatan ini bertujuan melestarikan budaya kidung, wirama, dan geguritan di kalangan ibu-ibu Pakis Dharma Patni, Seka Santi Gita Ulangun, serta Paiketan Serati Sekar Wangi Desa Adat Tegenan.

Pasraman yang diikuti oleh 60 peserta ini berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 26,27 dan 28 November 2025, bertempat di Balai Desa,Desa Adat Tegenan. Hal itu diungkapkan oleh I Wayan Suiji dalam laporannya selaku ketua panitia pelaksana kegiatan, ia juga menegaskan bahwa kegiatan ini dapat terlaksana berkat kerja sama semua pihak,baik peserta, narasumber, dan panitia.

Bendesa Adat Tegenan, I Ketut Wana Yasa, dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan pasraman sehingga berjalan sesuai rencana.

Pasraman secara resmi dibuka oleh Camat Rendang, Gde Sastraadi Wiguna, S.STP., MAP, dan turut disaksikan oleh Bendesa Alitan MDA Kecamatan Rendang, I Komang Warsa. Dalam sambutannya, Warsa mengungkapkan makna kehadiran para ibu dalam kegiatan seni pesantian sebagai bentuk penyempurna kehidupan.

“Hidup ini berjalan sempurna karena adanya tiga ibu(trining ibu): ibu rupaka yang melahirkan kita, ibu pertiwi yang memelihara kita, dan ibu saraswati yang memberi nutrisi pada pikiran sehingga kita bisa berucap dan bertindak,” ujar Warsa, yang juga dikenal sebagai penutur bahasa tingkat nasional.

Ia menambahkan bahwa mengikuti pasraman pesantian berarti mengisi diri dengan nilai-nilai Ibu Saraswati, karena pesantian adalah bagian dari panca gita yang membawa keteduhan dan kedamaian. “Bersuara halus dan santun adalah kedamaian, bernyanyi, metembang, mekidung adalah keindahan jiwa,” tuturnya.

Sementara itu, Camat Rendang Gde Sastraadi Wiguna menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan yang melibatkan para ibu tersebut.

“Tiyang salut kegiatan ini dapat dilaksanakan dan diikuti dengan antusias. Terima kasih sudah turut melestarikan seni budaya,” ujarnya. Ia juga mendorong agar kegiatan ini dipublikasikan melalui media sosial sebagai bagian dari pelestarian adat dan tradisi. “Kami dari kecamatan akan membagikan kegiatan ini di website Kecamatan Rendang,” tambahnya.

Dengan terselenggaranya Pasraman Pesantian ini, masyarakat Desa Adat Tegenan diharapkan terus menjaga keberlanjutan warisan budaya leluhur melalui seni suara yang sarat makna dan nilai spiritual. (manixs)

Ni Kadek Ririn Susanti,S.Pd/Ketua Pakis/MC

Laporan Ketua Panitia (I Wayan Suiji)

I Ketut Wana Yasa Bendesa Desa Adat Tegenan dalam memberikan ucapan selamat datang

 
I Komang Warsa,S.Pd,M.Si,M.Pd bendesa alitan MDA Kecamatan Rendang

Camat Rendang I Gde Sastraadi Wiguna,S.STP,M.AP saat membuka acara Pasraman Pesantian
Desa Adat Tegenan Tahun Anggaran 2025 di Balai Desa Adat Tegenan.

<--Suasana saat pembukaan Pasraman

Undangan yang hadir-->

Nara Sumber Wirama GA Md.Kresni

Ketua Pakis nara sumber tatabusana-->

<--Materi Aksara Bali dan Teks

Tampak antusiasme peserta mengikuti acara-->

Foto bareng bersama camat,perbekel dan bendesa alitan

Senin, 06 Oktober 2025

Ngusaba Desa Pertama Kali Dilaksanakan Sesuai Perarem No. 02 Tahun 2025 Desa Adat Tegenan.

Untuk pertama kalinya, Ngusaba Desa yang berlabel Sabha Tegen Desa Adat Tegenan dilaksanakan sesuai dengan Perarem Nomor 02 Tahun 2025 Desa Adat Tegenan tentang Usaba Tegen. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Krama Banjar Adat Tegenan Kaler, dengan persiapan yang telah dimulai sejak 3 Oktober 2025, diawali dengan ngaturang piuning di Pura Kahyangan Desa, Desa Adat Tegenan.

Rangkaian acara selanjutnya  nunas tirta kekuluh ke Pura Kiduling Kreteg Besakih, dan puncak acara dilaksanakan sehari pada Purnama Kapat, yakni 6 Oktober 2025 di Pura Puseh Bale Agung.

Menurut Klian Banjar Adat Tegenan Kaler, I Komang Jana Yata, untuk mengefektifkan anggaran, krama tidak tedun ngayah membuat banten secara kolektif, melainkan dibuat di rumah masing-masing dalam bentuk peson-peson.

Namun, untuk banten bakti pokok seperti bebangkit, taman pula gembal, dan sayut-sayut, dibeli langsung di Griya Sulinggih yang  muput upacara, yakni Ida Rsi Agung Griya Pundukdawa. Sedangkan untuk uang tunai (cash money) yang berupa peturunan tidak dikenakan , cukup hanya menyediakan banten sesuai ketentuan, jelasnya.

Sementara itu, Bendesa Desa Adat Tenganan, Jero Ketut Wana Yasa, menyatakan rasa syukurnya atas suksesnya pelaksanaan Ngusaba Tegen . Beliau mengapresiasi kerjasama dari seluruh pihak yang terlibat dalam mendukung kelancaran yadnya ini, mulai dari prejuru desa, banjar dan seket, hingga lembaga-lembaga adat seperti Paiketan Krama Istri, Serati, Pemangku, Pecalang,Seka Gong, dan Seka Igel Citta Werdhi dan lain-lain.

"Kerjasama antar komponen adat sangat membantu kelancaran pelaksanaan upacara ini," ujar Jero Ketut Wana Yasa.

Antusiasme krama juga terlihat tinggi, salah satunya dengan pemasangan penjor di lebuh masing-masing yang turut memperkuat suasana semarak dan sakral selama pelaksanaan upacara.

Salah satu unsur utama dalam upacara ini adalah Tegen-Tegenan, yang dibuat sebanyak sembilan buah dengan warna merah, selaras dengan konsep pemujaan kepada Dewa Brahma yang berstana di Bale Agung. Tak hanya itu, gebogan yang dipersembahkan oleh krama Pakis dan Serati juga berjumlah sembilan, melambangkan kekuatan spiritual yang mendalam,hal ini diungkapkan oleh Ni Kadek Ririn Susanti selaku sekretaris desa adat dan ketua Pakis sekaligus sebagai kordinator pembuatan gebogan dan konsumsi,serta tari remaja.

Nuansa magis semakin terasa ketika persembahan tersebut ditarikan di pelataran utama mandala, hingga dalam prosesnya terjadi kondisi trans pada salah satu krama yang ikut menarikan tarian sakral tersebut.

Pelaksanaan Ngusaba Tegen ini dilakukan secara bergilir antara Banjar Tenganan Kelod dan Kaler. Sementara itu, untuk menunjang kelancaran acara, pembiayaan seperti konsumsi, kebutuhan batu-batu ke lembaga, seperti pengolem gong, tambur, dan lainnya sepenuhnya ditanggung oleh Desa Adat.

Diakhir acara penyineban,krama berubut hasil bumi dari tegen tegenan dan barong pancapala sebagai lambang anugrah kemakmuran warga desa,rahayu(manixs)

Suasana saat persembahyangan

Pakis dan Serati bersama pendiri dan pembinanya

Partisipasi Pakis dan Serati dalam saba Tegen

Banten caru




Menarikan tari saba tegen dengan negen tegen tegenan didampingi gebogan

Rebutan pala bungkah pala gantung usai penyineban Ida Bhetara,sebagai simbul
anugrah kesejahtraan bagi umat manusia khususnya krama Desa Adat Tegenan.

Prosesi upacara Sabha Tegen



Penyusunan Perarem Ngusaba Tegen Dimatangkan, Jadi Acuan Sakral Desa Adat Tenganan

Proses pematangan penyusunan Perarem Ngusaba Desa atau yang lebih dikenal dengan Ngusaba Tegen, dilaksanakan pada Hari Minggu, 31 Agustus 2025 dengan cukup serius dan penuh pertimbangan. Perarem ini dirancang untuk menjadi pedoman resmi pelaksanaan upacara adat di Desa Adat Tenganan.

Konseptor sekaligus Ketua Panitia Penyusunan Perarem, I Wayan Suiji, memimpin penyusunan konsep yang pada awalnya diskusi cukup alot namun pada akhirnya mendapatkan kesepakatan sebesar 99 persen dari peserta rapat. Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Bendesa Adat, I Ketut Wana Yasa, yang menekankan pentingnya pematangan konsep perarem, mengingat perarem ini akan menjadi acuan resmi warga masyarakat dalam pelaksanaan Ngusaba Tegen ke depan dan akan resmi berlaku setelah disosialisasikan kepada warga/krama desa adat.

"Intinya, pelaksanaan upacara ini dipertanggungjawabkan oleh Desa Adat, namun secara teknis pelaksanaannya dilakukan bergiliran oleh dua Banjar Adat, yaitu Banjar Tegenan Kelod dan Banjar Tegenan Kaler," jelas Bendesa I Ketut Wana Yasa.

Perarem ini juga mengatur keterlibatan menyeluruh dari seluruh komponen masyarakat adat, mulai dari prejuru desa, banjar adat, lembaga adat seperti Paiketan Krama Istri, Serati, Pemangku, Seka Teruna, penari, hingga warga masyarakat. Partisipasi itu harus tampak, misalnya, dalam pembuatan penjor di lebuh masing-masing, sebagai bentuk bhakti dan simbol kekompakan warga dalam menyambut upacara.

Lebih lanjut, Bendesa menegaskan bahwa perarem ini harus memuat secara detail:

  • Nama dan jenis upakara,

  • Fungsi dan tujuannya,

  • Mekanisme pelaksanaan, serta

  • Pertanggungjawaban secara sekala dan niskala.

"Perarem ini harus kuat secara konsep dan rinci secara teknis, agar bisa menjadi warisan hukum adat yang mengikat dan dihormati lintas generasi," pungkas beliau.

Diharapkan setelah sosialisasi,kemudian di-update ulang,disusun,dijilid dan dicarikan tanda tangan hingga diketahui Bendesa Agung,MDA Provinsi Bali yang akan ditindaklanjuti oleh sekretaris panitia Ni Kadek Ririn Susanti.(manixs).
Koordinator penyusunan perarem I Wayan Suiji,saat memberikan konsepnya

Ketua Penyusunan perarem memberi tanggapan peserta rapat


Minggu, 13 April 2025

RSI GANA DI SUMBER KEHIDUPAN "KLEBUTAN BUKA"

Desa Adat Tegenan yang terletak dikaki Gunung Agung memiliki kekayaan alam berupa mata air yang cukup banyak antara lain mata air Grubug/Grobogan/Buka,Mata Air Giri Kusuma,Mata Air Lateng, 1,2 dan 3,Mata air Gambar,Mata air Bangol dan beberapa mata air kecil lainnya. Salah satu mata air yang disucikan sebagai pesucian Ida Bhetara Penataran Agung Besakih adalah mata air Buka yang debit airnya cukup besar yang dimanfaatkan mengairi Subak Lipang,Subak Rendang,sumber air PDAM,sumber bahan baku air kemasan Balian/PT.Bali Agung Waters,dimanfaatkan penduduk lokal untuk suplai penjualan air kepada truk tangki yang didistribusikan ke daerah pegunungan Kecamatan Rendang. Dari pemakai air tersebut hanya PT Bali Agung Waters yang memberi kontribusi kepada Desa Adat,Subak dan pemilik lahan yakni Pr.Dalem dan Pr.Manik Gni. Penggunaan terakhir oleh Desa Adat sebagai salah satu Bupda Desa Adat dengan memanfaatkan bendungan irigasi Arca sebagai wisata permandian yang memberi kontribusi positif terhadap pendapatan Desa Adat.

Melihat perkembangan wisata permandian Arca yang memberi kontribusi positif ,Bendesa Desa Adat Tegenan,atas petunjuk niskala menyelenggarakan upacara Rsi Gana disumber air pada hari Purnama Kedasa tanggal 12 April 2025 kemaren. Pada kesempatan tersebut I KEtut Wana Yasa selaku Bendesa menyampaikan bahwa pelaksanaan upacara ini murni dari hasil pengelolaan permandian yang dibantu pelaksanaannya oleh krama Subak Lipang dan dihadiri oleh prejuru Desa Adat,para Klian Banjar Adat,Ketua Serati,Ketua Pakis,Ketua Paiketan Pemangku,Ketua Saba Desa dan Klian Subak Lipang serta Manajer Produksi PT Bali Agung Waters.

Upacara yang dipuput oleh Ida pandita Mpu Dharma Yoga Semadi dari Gria Pucaksari Pesaban yang rencananya dimulai pukul 16.00 namun mengalami keterlambatan karena diguyur hujan lebat dan acara baru dapat dimulai pukul 17.30 hingga selesai pukul 19.30. Karena tidak ada jaringan listrik penerangan hanya seadanya menggunakan lampu cash yang cukup temaram,usai acara krama langsung secepat kilat hilang meninggalkan lokasi. Walaupun jalan cukup becek dan licin Ida Sulinggih dapat melewati dengan aman sampai ditemat pemberangkatan.

Dengan dilaksanakan upacara ini harapannya kedepan agar usaha permandian ini semakin dikenal dan semakin ramai dan keselamatan pengunjung terkendali tidak ada kejadian yang tidak diinginkan dan dapat melaksanakan usaha dengan damai. Rencana kedepan tempat ini dikelola dengan baik dan transfaran yang sudah dikelola oleh tim dilengkapi dengan manajemen yang baik,hasilnya kami akan distribusikan dan akan dibuatkan aturan biar mendekati keadilan yakni ada persentase ke Pura Dalem dan Pr.Manik Gni sebagai pemilik lahan di sumber air/klebutan,kersentase ke Subak sebagai penghaci,biaya sewa lahan ke Km.Sari Merta dan Mangku Sulandri,biaya oprasional dan hasilnya kami distribusikan ke Pura Kahyangan Tiga dan Kahyangan Desa dalam bentuk punia pada saat upacara piodalan untuk meringankan beban pengemong pura,kalau sudah berkembang tidak menutup kemungkinan untuk mendukung program Desa Adat lainnya seperti kegiatan sosial,pelestarian adat,budaya dan peningkatan kompetensi generasi muda, pungkas bendesa.

Sementara itu klian Subak Lipang I Wayan Megeng dan I Wayan Suiji Klian Banjar Adat Tegenan Kelod  mengamini rencana bendesa,hal ini penting direncanakan secara matang buat aturan lembaga pengelola,struktur organisasinya,SOP keuangan dan sampai kepada para pihak yang punya andil terhadap kegiatan usaha tersebut utamanya pemilik lahan. Itu tidak cukup, juga harus ada sosialisasi kepada warga desa adat agar tidak tercipta narasi yang simpang siur,karena usaha sudah jadi banyak orang yang melirik,kalau saat merintis biasanya mereka tidak peduli,kalau sudah jalan dan kelihatan hasilnya mata mata akan mulai melirik bahkan dengan persepsinya masing-masing,ujar para klian. (manixs)

Krama subak saat sebelum acara dimulai

Persiapan bakti oleh serati

Ida PAndita Mpu Dharma Yoga Semadi saat muput.

Banten Rsi gana
Sebelum sulinggih datang sudah diguyur hujan cukup lebat
padahal jam duaan sampai jamtigaan cuaca cukup bersahabat

Saat upacara berlangsung diguyur hujan




Minggu, 26 Januari 2025

UPACARA AGAMA DALAM IMPLEMENTASI TRI HITA KARANA DI DESA ADAT TEGENAN

Desa Adat Tegenan yang terletak dikawasan suci Pura Besakih adalaah salah satu Desa Adat yang memi-liki kewajiban untuk ngiring Ida Bhetara Dalem Puri pada saat melasti dalam rangkaian upacara Purnama kedasa sehingga masuk dalam jajaran kelompok Desa Pregunung yang dilaksanakan oleh Desa Karang Desa Adat Tegenan. Desa Adat Tegenan dalam melaksanakan upacara keagamaan memiliki kaitan dengan Upacara Ngusaba Pura Dalem Puri yaitu nemonin penanggal ganjil(1,3,5,7) nemu kajeng pada sasih kepitu,kemudian setelah tiga harinya dilaksanakan upacara Ngusaba Dalem/Saba Pitra di Pura Dalem Suci yang dilaksanakan oleh Desa Seket sebagai pengempon dan Krama Desa Adat sebagai krama penyung-sung.

Dalam kaitan pelaksanaan upacara keagamaan ,tradisi adat dan Budaya dapat dikelompokan implementasinya sesuai Tri Hita Karana sebagai berikut.

I. Parhyangan

Hubungan Manusia dengan Tuhannya perlu dijaga secara harmoni dan terstruktur dalam implementasinya seperti pura kahyangan tiga,pura swagina/kahyanghan desa sesuai pengemponnya.

A.Kelompok Pura Kahyangan Tiga

1. Pura Puseh diempon oleh krama Desa Seket yang memiliki ayahan Desa sebagai cikal bakal Desa di  ,,,,Tegenan,upacara piodalan sekaligus Ngusaba Nini dilaksanakan pada Purnama Kelima.

2. Pura Bale Agung,masih dalam satu areal Pura Puseh,sejak 2019 diempon oleh Krama Banjar Adat ,,,,Tegenan Kelod dan Kaler secara bergiliran setiap purnama Kapat. Sedangkan upacara Bhetara Turun ,,,,Kabeh dilaksanakan setiap 10 tahun sekali selesai upacara ngaben kinembulan/Desa Adat pada ekor ,,,,angka tahun 8 dan ekor tahun 9 dilaksanakan Turun Kabeh bersamaan menjelang Upacara Panca Bali ,,,,Krama di Besakih.

3. Pura Dalem Putra dan Prajapati  pelaksanaan upacara piodalanya jatuh 6 bulan sekali hari Buda             Wage  Kelau namun dilaksanakan setiap tahun diselingi dengan upacara ngerainin di empon oleh            Krama Banjar Adat Tegenan Kelod. Untuk upacara Praja Pati juga ada upacara yasa kerti tiap                  Purnama Kepitu diikuti oleh krama Desa Adat sambil nunas benang tridatu,Ida sesuhunan mesolah         masupati benang , sedangkan pada saat piodalan Ida Bhetara ketuur ke Pr.Dalem ,biaya disubsidi           dari Desa Adat.

B.Kelompok Pura Kahyangan Desa

1.Pura Dalem Suci dan Bhetara Gde Sakti diempon oleh krama banjar Adat Tegenan Kaler,piodalannya     jatuh pada Buda Wage Ukir dan Buda Klion Pahang. Pura ini dulunya merupakan kahyangan tiga,         namun karena adanya migrasi ke selatan dan membangun Dalem Putra dekat kuburan,sehingga pura       ini menjadi Pura Kahyangan Desa sehingga disebut Dalem Suci.

2.Margi Tiga,upacara pecaruannya dilaksanakan setiap tilem kepitu dilaksanakan secara bergiliran oleh     Banjar Adat Tegenan Kelod dan Kaja,biaya upakara disubsidi Desa Adat.

3.Pura Tulak Tanggul dilaksanakan oleh Banjar Adat Tegenan Kelod biaya disubsidi oleh Desa Adat         sebagai stana Ratu Gde Sakti Tanggul Gumi yang berwujud Barong Bangkung sehingga pantang             krama memelihara bangkung. Juga sebagai stana Ratu Lingsir Tanggul Gumi,Sanghyang                         Suratma, Jogormanik dan Cikrabala  Upacara pekelingnya pada Sukra Umanis Ukir,piodalan                   bersamaan dengan Pura Dalem ,beliau dituur ke Dalem ngiring mesolah. Pada kajeng Klion Uudan         sasih kenem ada upacara Caru mancasanak agung sebagai caru pemangkalan agung,krama mulai me      masang sungga guling di batas desa dan dirumah masing-masing, dan nanceb sanggah cucuk di              lebihnya ,setelah saat itu warga boleh melaku    kan pecaruan di rumah masing masing kalau mecaru.      Kalau melakukan upacara Pitra Yadnya,sebe-         lum    nyepugin wajib ngaturang pejati piuning di      Sanghyang Suratma(mohon ijin).

4.Bale Patok sebagai stana Bhegawan penyarikan pekeling pada Tumpek Krulut dan ada kentongan          Banjar,pada saat ada anak gadis diambil kawin keluar desa,wajib maturan pejati dan penepak suara 10    rontong beras (25kg). diuangkan.

5.Margi Catur sebagai stana Sanghyang Catur Bhuana dan disini tempat melaksanakan caru Kesanga        dengan 9 ekor ayam dan 1 ekor sapi/godel tiap 5 tahun sekali pelawatan Ida Bhetara Dalem Suci,             Tulak  tanggul dan Prajapati tedun nodya caru habis ngaben tahun ekor 3 dan 8. diempon bergiliran       krama banjar Kelod dan Kaja.

6.Pangkung Cinang upacaranya bersamaan dengan caru di Margi Tiga,waktu dan pengemponnya sama.

7.Pr.Pekandelan adalah sebagai benteng bagian utara sebagai stana Ratu Gde Sakti Pekandelan sebagai    andel-andel jagat Tegenan dari tempo dulu,pelinggih ini dulu hancur karena letusan G.Agung 1963        dan baru kemudian tahun 2003 dibangun diatas tanah hak guna pakai atas nama I Komang Darma          dengan konpensasi tidak sebagai saya dan tidak tedun mekemit. Upacara di pura ini pada tilem Diesta     yakni upacara memungkah sebagai tanda dimulainya penggarapan tegalan yang diempon oleh Subak    Abian Pucak Manik,sedangkan pada tilem kepitu dilaksanakan pecaruan eko sato oleh Desa Adat            bersamaan dengan Caru Margi Tiga.

8.Tugu Pengadangan upacaranya dilaksanakan setahun sekali pada saat pelaksanaan caru Margi Tiga yang dilaksanakan Desa Adat.

9.Pura Manik Harum adalah pura lahyangan Desa yang termasuk kelompok Pura Swagina bagi para petani yang diempon oleh Krama Desa jangkepan dan didukung oleh Subak Lipang dan Subak gambar karena memiliki kepentingan yang sama bagi para petani. Upacaranya dilaksanakan pada Hari Jumat Umanis sasih Klau. Juga dilaksanakan upacara ngatag pada Sabtu Klion Wariga yang dikenal sebagai Tumpek Uduh atau Bubuh.

10.Pura Gua Gala Gala

Rabu, 01 Januari 2025

PASRAMAN YOWANA DALAM BALUTAN HARI IBU

Desa Adat Tegenan dalam program peningkatan kapasitas yowana tahun anggaran 2024,menyeleng-garakan Pasraman Yowana yang bertema Melalui Pasraman Remaja Kita Ciptakan Generasi Muda Yang Berwawasan Luas dan Berkarakter Kearifan Lokal,didahului dengan perayaan hari ibu pada Minggu tanggal 22 Desember 2024 dengan mengambil tema "Ibu Sumber Kasih dan pengorbanan tiada Henti ". Berbagai lomba diadakan antara ibu-ibu Pakis Dharma Patni,Serati Sekar Wangi,KWT.Mekar Wangi dan PKK Br.Adat Tegenan Kaja,seperti ngulat tipat berjalan,nyuun sokasi, perebutan kursi,dll. Sedangkan Pasraman Yowana dimulai tanggal 26 Desember 2024 bertempat di Balai Desa Adat Tegenan mulai pukul 12.00 hingga-selesai tanggal 29 Desember 2024.Materi yang disajikan menyangkut agama seperti implementasi weda dalam beragama keseharian,adat budaya seperti praktek membuat banten dan olahan caru,juga ilmu belawa membuat olahan lawar masakan khas Bali lanjut dengan  megibung ,Konektivitas Adat,Tradisi,Budaya dan Agama dari kementrian Agama Kabupaten Karangasem, bidang hukum seperti Undang-Undang Lalin,ITE dan Narkoba dari Polsek Rendang,juga materi etika dalam berfikir,berucap dan berbuat dalam komunitas sosial oleh ketua Pakis DA Tegenan.

Harapan kami dengan diselenggarakan pasraman   dalam liburan anak anak sekolah bisa efektif mengisi waktu luang mereka agar tidak dimanfaatkan pada hal hal yang tidak berguna baik anak anak SD(kls VI),SMP,SMA/SMK dan Seka Teruna semuanya 81 peserta. Seka Teruna banyak keluar negeri bekerja untuk menambah luas pengalaman mereka,namun adat tradisi sebagai karakter kearifan lokal jangan diabaikan justru dipupuk demi lestarinya tradisi positif di desa kita. Mengenai sumber dana sebesar Rp.39 juta lebih berasal dari BKK TA 2024 Rp.10 juta,peningkatan seni budaya Rp.8,5 juta selebihnya dari dana punia masyarakat dan dana CSR beberapa perusaan dan KSP.Mekar Sari.ujar ketua panitia I Wayan Suiji.

Pasraman Yowana yang dibuka oleh Bendesa Alitan MDA Kecamatan Rendang I Komang Warsa, menyambut baik kegiatan ini karena sebagai salah satu tujuan pemerintah provinsi Bali yaitu melestarikan dan mengembangkan tradisi adat dan budaya Bali sebagai kearifan lokal dan tema ini sangat nyambung dengan tujuan tersebut,dimana generasi muda hindu hendaknya melek dan mempunyai wawasan yang luas mengglobal sesuai perkembangan peradaban zaman kekinian agar bisa bersaing di era global ini,silahkan mencari ilmu yang setinggi tingginya,berlayar dan bekerja sampai jauh kenegeri seberang namun jangan lupa dengan jati diri orang Bali khususnya orang/generasi   Tegenan ini,nilai nilai luhur tradisi budaya adat yang diwariskan leluhur jangan sampai hancur bahkan punah gegara prialaku kita yang kemajuan. Dengan adanya pasraman ini apa yang menjadi tujuan penglingsir kita untuk mengingatkan,menanamkan nilai nilai luhur tradisi agar terekam dibenak adik adik sekalian sehingga bisa lestari sepanjang hayat,kalau tidak kita yang membanggakan,menjunjung dan melestarikan siapa lagi,kalianlah penerus kami,tegas Warsa.

Sementara itu I Ketut Wana Yasa selaku Bendesa sekaligus penanggungjawab kegiatan sangat berterimakasih atas kerja keras panitia untuk mewujudkan acara ini sehingga dapat berjalan lancar, kedepan kolaborasai yang lebih besar bisa dilakukan dengan penganggaran yang lebih proporsional. kegiatan kita hari ini cukup besar karena ada apresiasi kepada siswa berprestasi tingkat SD,SMP,SMA dan SMK,juga bantuan sembako kepada warga kurang mampu,lomba-lomba yang cukup banyak sehingga biaya tentu cukup besar,ujarnya

Dalam penutupan acara sekaligus perayaan menyambut tahun baru dimeriahkan oleh penampilan dari ibu ibu KWT,Pakis,Serati dan PKK dengan tari pendet,vokal grup,senam kreasi,lomba karaoke dan sangat menarik adalah drama tari dari komunitasa Rare Semara yang dikordinir oleh Rama Dwipayana menampilkan garapan perdana tentang kejadian tempo dulu di Tegenan sebuah kisah dengan judul Menaru Lina dengan penata laku I Wayan Surata,Naskah mk.Manik dan Dalang sekaligus penyusun skrip I Kadek rama Dwipayana dengan durasi 9 menit dengan sambutan hangat dari penonton kagum dengan kreasi dan karya Rama yang memukau ,walau masih duduk di SMK/Kokar. pementasan hiburan diakhiri dengan joged (manixs).

Rapat persiapan dan pembentukan panitia pasraman
Ketua Panitia memberi arahan dalam persiapan pembukaan